Kamis, 27 September 2012

PUASA DI BULAN RAMADHAN


MAKALAH 
PUASA DI BULAN RAMADHAN



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Puasa merupakan salah satu dari rukun islam kita sebagai umat muslim wajib menjalankan puasa Ramadhan saya menuliskan tema puasa ini agar kita lebih mengerti apa puasa itu dan semoga kita menjadi penguasa diri kita sendiri dengan berpuasa. Ramadhan merupakan bulan dimana kita harus dapat mengendalikan diri kita,hal yang utama yang harus kita lakukan dalam pelaksanaan puasa ramadhan adalah kita harus menjadi penguasa dan raja bagi diri kita sendiri kita harus benar-benar mengendalikan menurut aturan Ilahi yang berlaku. Kalau berbicara harus kita kendalikan demikian juga dengan mata semuanya harus kita kendalikan dengan baik. Mungkin kadang ada bertanya kenapa kita tetap sengsara, atau mengapa hidup kita gelisah dan tidak tenang ? jawaban yang tepat adalah karena kita tidak dapat mengendalikan diri kita sendiri.
Pada bulan Ramadhan ini kita harus seperti kepongpong masuk seperti ulat berbulu yang ditakuti dan menjijikan dan keluar sebagai kupu-kupu yang indah yang begitu disenangi banyak orang, yang dapat kita artikan sebusuk dan sekotor apapun diri kita ,setelah menjalankan ibadah puasa ini kita harus menjadi orang yang memiliki kepribadian yang indah dan bermanfaat bagi dirikita sendiri dan orang lain.Di bulan suci Ramadhan inilah kesempatan yang baik untuk megembleng diri agar menjadi terindah dan terbaik. Rasulullah mensinyalir,umat islam akan banyak melaksanakan puasa ,hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Bagai mana menurut ada apakah ini benar? Kalau Rasulullah sudah mensinyalir demikian memang demikian keadaannya karena semua yang dikatakan dan dilakukan Rasulullah semua itu benar adanya dan tidak ada yang salah .Perkembangan pada saat ini apakah sesuai dengan sinyalemen Rasulullah tadi? Ibadah puasa umat islam pada saat ini Alhamdulillah sudah agak meningkat ternyata mereka mulai sadar ,mereka sadar bahwa ibadah puasa ini tidaklah sebuah tradisi saja melainkan sebuah jalan untuk meningkatkan keimanan.

B.Tujuan Penulisan
1)      Memahami Pengertian puasa
Puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum tapi harus menahan diri dari hal-hal yang akan merusak pahala puasa bitu sendiri ibadah puasa yang pokok adalah “menahan makan,minum,dan hawa nafsu mulai terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari” akan tetapi kita juga harus menahan nafas,bibir,mata, dan semua anggota badan kita dari hal-hal yang akan mebatalkan puasa.

C. Rumusan Masalah
1). Apa pengertian dari Puasa dibulan Ramadhan.
2). Bagaimana Kewajiban Berpuasa di bulan ramadhan bagi umat muslim.
3). Dengan sebab kita berpuasa apa saja yang jadi Keutamaan-Keutamaan  Puasa Dan   Keutamaan Bulan Ramadhan
4). Apa sebab-sebab bagi umat muslim yang dapat membatalkan puasa.
5). Jelaskan Masalah Lingkungan Sehari-hari dalam bulan Ramadhan.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB II
PEMBAHASAN
PUASA DI BULAN RAMADHAN

A. Puasa Di Bulan Ramadhan
1.      Pengertian Puasa
Puasa menurut bahasa adalah “manahan diri” dan kalau menurut istilah “adalah ‘menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat’.
Puasa di bulan ramadhan adalah puasa fardhu, puasa yang harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan syariat Islam, yang ini wajib dilakukan oleh umat islam. Puasa, merupakan satu cara untuk mendidik individu dan masyarakat untuk tetap mengontrol keinginan dan kesenangan dalam dirinya walaupun diperbolehkan. Dengan berpuasa seseorang dengan sadar akan meninggalkan makan dan minum sehingga lebih dapat menahan segala nafsu dan lebih bersabar untuk menahan emosi, walaupun mungkin terasa berat melakukannya.
Puasa juga merupakan kewajiban yang konkret sebagai pembina suatu kebersamaan dan kasih sayang antar sesama. Sesama orang Islam akan merasakan lapar, haus, kenyang, dan sulitnya menahan emosi dan amarah diri. Puasa dalam satu bulan, seharusnya dapat membawa dampak positif berupa rasa solidaritas dan kepedulian antar saudara, rasa kemanusiaan yang mendalam atas penderitaan sesama manusia. Perasaan sama-sama lapar, haus, kesabaran yang lebih, dan kesucian pikiran juga kata-kata, mampu membuat manusia memiliki rasa kebersamaan dalam masyarakat, dan menghasilkan cinta kasih antar sesama tanpa memandang latar belakang, warna kulit dan lain sebagainya.
      2.  Kewajiban Berpuasa di Bulan Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang mukmin dan merupakan salah satu dari Rukun Islam yang Lima, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam Alquran dan as-Sunnah serta ijmak kaum muslimin.
a).  Dalil dari Alquran:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah, 2:183-185).
b).  Dalil dari as-Sunnah:
1. Hadits Thalhah bin Ubaidullah. Beliau berkata,
Seorang arab pedalaman datang kepada Nabi e dalam keadaan kusut rambutnya – dan terdapat – laki-laki itu, ‘Beritahulah aku apa yang diwajibkan atasku dari puasa.’ Rasulullah menjawab, ‘Ramadhan, kecuali kalau engkau ingin tambahan.’ (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).
2. Hadits Ibnu Umar. Beliau berkata, Rasulullah bersabda,
Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu: syhadatain, menegakkan solat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa bulan Ramadhan. (Riwayat al-Bukhariy).
3. Dalil dari Ijmak kaum muslimin:
Kaum muslimin telah menyepakati kewajiban puasa Ramadhan sejak dahulu sampai sekarang.

3.      Keutamaan-Keutamaan  Puasa Dan Keutamaan Bulan Ramadhan
a).  Keutamaan  Puasa
Telah ada perintah yang menunjukkan bahawa puasa merupakan satu ibadah yang dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah. Di samping itu, telah dijelaskan keutamaan-keutamaannya, di antaranya adalah yang terkandung dalam firman Allah :
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Ahzab, 33:35).
Dan juga firman Allah :
“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. (Al-Baqarah, 2:184).
Rasulullah sendiri telah menjelaskan keutamaan puasa dalam hadits-haditsnya yang sahih, antara lain adalah:
1). Puasa merupakan benteng atau perisai sebagaimana disebutkan dalam sabda   Rasulullah:
Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, maka hendaknya dia menikah kerana nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang tidak mampu, maka seharusnya dia berpuasa kerana puasa itu adalah benteng atau perisai baginya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Ibnu Masud).
Hadits ini menjelaskan bahawa puasa dapat mengekang syahwat dan memperlemahnya, sehingga dia bisa menjadi perisai seorang muslim dari syahwat dan hawa nafsu – dua hal yang selalu menggiring manusia ke neraka Jahannam. Oleh karena itu, Nabi bersabda dalam hadits yang lain,
Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasanya itu dari api neraka (sepanjang perjalanan) tujuh puluh tahun. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Abu Sa’id al-Khudriy).
2). Puasa dapat memasukkan pelakunya ke dalam syurga, sebagaimana hadits Abu Umamah bahawa beliau pernah berkata kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang dapat memasukkan diriku ke dalam syurga. Beliau menjawab,
Berpuasalah, tidak ada yang seperti puasa. (Riwayat an-Nasaiy, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dengan sanad yang sahih).
3). Orang yang berpuasa itu mendapat dua kebahagiaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah , beliau berkata, Rasulullah bersabda:
Allah berfirman, ‘Semua amalan Bani Adam untuknya, kecuali puasa, maka itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.’ Puasa itu perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa pada satu hari, maka janganlah berkata-kata kotor dan keji. Jika ada orang yang mencelanya dan menyakitinya, hendaklah dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’ Demi Zat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misik. Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan yang membahagiakannya, yaitu jika berbuka, dia berbahagia, dan jika berjumpa dengan Rabnya dia berbahagia dengan puasanya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).
4). Pahala orang yang berpuasa dilipat-gandakan, dan
5). Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik di sisi Allah daripada wangi misik.
6). Orang-orang yang berpuasa diberikan pintu khusus di surga yang diberi nama ar-Rayyan, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ,
Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang dinamakan ar-Rayyan. Masuk dari pintu itu orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat; tidak masuk dari pintu itu seorangpun selain mereka. Kalau mereka semua telah masuk (ke dalam surga), maka pintu itu ditutup sehingga tidak dapat lagi seorangpun masuk melaluinya. Maka jika telah masuk orang yang terakhir dari mereka, pintu itupun ditutup. Barangsiapa yang masuk, akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan haus selamanya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Sa’id Al Khudriy).

b).  Keutamaan Bulan Ramadhan
1). Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran kerana Alquran diturunkan pada bulan tersebut sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Albaqarah ayat 185:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Kerana itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah dia berpuasa.Dalam ayat di atas, bulan Ramadhan dinyatakan sebagai bulan Alquran diturunkan, kemudian pernyataan tersebut diikuti dengan perintah yang dimulai dengan huruf –yang berfungsi menunjukkan makna ‘alasan dan sebab’– dalam . Hal itu menunjukkan bahwa sebab dipilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan puasa adalah karena di dalamnya diturunkan Alquran.
2). Dalam bulan ini, para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka sebagaimana yang disabdakan Rasulullah,
Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu para setan. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

Oleh kerana itu, kita dapati dalam bulan ini sedikit terjadi kejahatan dan kerosakan di bumi kerana sibuknya kaum muslimin dengan berpuasa dan membaca Alquran serta ibadah-ibadah yang lainnya; dan juga dibelenggunya para setan pada bulan tersebut.
3). Di dalamnya terdapat satu malam yang dinamakan lailatul qadar, satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Qadr.

4.      Menjelaskan Hal-Hal Yang Mebatalkan Puasa
a.       Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.
b.      Jima’ (bersenggama).
c.        Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.
d.      Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa sengaja.
e.       Keluarnya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.
f.       Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
”Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi). Dalam lafazh lain disebutkan : “Barangsiapa muntah tanpa disengaja, maka ia tidak (wajib) mengganti puasanya).” DiriwayatRan oleh Al-Harbi dalamGharibul Hadits (5/55/1) dari Abu Hurairah secara maudu’ dan dishahihRan oleh AI-Albani dalam silsilatul Alhadits Ash-Shahihah No. 923.
g.      Murtad dari Islam (semoga Allah melindungi kita darinya).
Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah Ta’ala: Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. “(Al-An’aam:88).
Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja. Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa.



B. Lingkungan Sehari-Hari Dalam Bulan Ramadhan
Ramadhan merupakan sebuah media pendidikan . Di bulan inilah, kita belajar menjadi sosok yang ulung sebagai controller dalam segala hal. Selain itu, bulan ini memang pantas kita jadikan madrasah besar sebagai sarana memperbaharui ibadah, meningkatkan kualitas diri serta membelenggu diri dari hal-hal yang haram bahkan makruh sekalipun, demi berlomba – lomba memperoleh derajat muttaqin yang kaffah. Seorang ahli dakwah pernah mengatakan,  di samping mengajarkan kita mengendalikan diri, selama bulan puasa umat islam juga dilatih kedisiplinan. Keterampilan dan kedisiplinan yang diperoleh selama bulan ramadhan sejatinya membekas dan menjadi bekal dalam menjadi kehidupan dalam sebelas bulan lainnya, sehingga puasa seseorang benar – benar bermutu, bukan puasa soh (kosong). Mediator keterampilan yang paling dekat adalah ketika memenuhi undangan berbuka puasa, karena waktu berbuka adalah satu waktu maka tidak ada alasan untuk datang agak sedikit telat. Sungguh, kedisiplinan tersebut merupakan hal yang perlu dipertahankan bukan hanya dalam menghadiri undangan bubar di bulan ramadhan, tapi juga perlu dibangun kesadaran memenuhi undangan di luar bulan ramadhan seperti rapat, mengumpulkan tugas, dan sebagainya. Sebab, sudah semestinya semua kepatuhan yang telah dipraktikkan di dalam bulan suci ramadhan juga harus direalisasikan di dalam kehidupan sehari – hari ( di luar bulan ramadhan).
Esensi makna puasa terdapat aturan utama bagi umat Islam, yaitu dilarang makan, minum, merokok, dan segala hal lainnya yang dapat membatalkan puasa dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Aturan – aturan tersebut sanggup diikuti dan dijalankan oleh umat Islam selama bulan puasa, umat Islam rela meninggalkan rasa kantuknya sejenak untuk memenuhi sahur dan langsung berhenti makan ketika waktu imsak telah tiba, meski secara lahiriah tidak ada yang mengawasi. 
Kita juga mengamati suasana di sore hari, mulanya jalanan sangat padat  untuk sekedar ngabuburit atau membeli penganan berbuka puasa. Namun, menjelang waktu berbuka tiba maka jalanan pun sepi. Hal ini menandakan umat Islam sangatlah disiplin dalam bulan ramadhan. Refleksi kedisipinan yang diterapkan umat islam di bulan ramadhan patut diacungi jempol, ini menandakan sebuah kemajuan bangsa yang sangat nyata jika dibandingkan tingkat kedisiplinan di luar bulan ramadhan.
Kita juga menyadari semua tindakan kita secara lahiriah selalu dikaitkan dengan maraknya bulan ramadhan. Betapa tidak, kebanyakan dari kita yang suka menerobos lampu merah jalanan sedikit bersabar dan menunggu sejenak lantaran khawatir dengan nilai puasa yang tergadaikan. Hiruk pikuk dari bulan ramadhan yang penuh beragam kelebihan yang tidak dimiliki bulan lain inilah memang mendikte dan melatih kita agar bersikap protektif dan membangun kredibilitas diri kita. Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, terutama yang mengandung dosa. Di bulan ramadhan kita berpuasa, kita menahan lapar dan dahaga. Bukan itu saja, tetapi juga menahan segala yang dapat membatalkan puasa, juga segala yang dapat merusak puasa. Terutama hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sehingga di dalam bulan ramadhan kita dapat terbiasa dan terlatih untuk menghindari dosa-dosa kita agar kita senantiasa bersih dari perbuatan yang dapat menimbulkan dosa.
 Latihan ini menimbulkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing, berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain sebagainya.Sudah seharusnya kita patut bersyukur bahwa tanpa terasa seluk – beluk kehidupan berjalan sangatlah cepat. Kita telah mampu merasakan kembali bulan suci ramadhan yang belum tentu semua orang mampu merasakannya dikarenakan faktor – faktor yang dibawah kuasa-Nya. Konsep membangun kredibilitas yang telah dicontohkan Rasulullah saw, seperti sifat shiddiq (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathanah (cerdas) bisa kita mulai realisasinya dalam bulan suci ramadhan ini, mengingat momentum untuk memulai mengimplementasikannya sangatlah relevan dan kondusif.
 Membangun kredibilitas diri juga erat kaitannya dengan kecerdasan yang identik dengan ilmu pengetahuan, tentunya di bulan ramadhan kitab suci Al-Qur’an sudah seharusnya menjadi pegangan mutlak yang ditelusuri kandungannya dan direalisasikan dalam sepanjang hidupnya. Orang yang berilmu dan berwawasn luas dianggap mempunyai kecerdasan intelektual. Hal ini belumlah cukup tanpa dibarengi dengan kecerdasan spiritual, yaitu kemampuan menerjemahkan tanda – tanda alam yang merupakan pemberian Allah dalam pikiran, sikap dan perilaku. Selanjutnya, kecerdasan emosional juga sangat urgen untuk diperlukan dalam membangun kredibilitas, seperti sabar, tidak egois dan sombong, tenang , tidak gegabah serta mampu mengendalikan emosi dan sikap. Nah, uraian di atas sangatlah jelas menggambarkan nilai bulan ramadhan begitu edukatif untuk mendidik bangsa.
Bulan Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan dalam kehidupan. Di bulan puasa kita diharuskan sungguh-sungguh dalam beribadah, menetapkan niat yang juga berisi tujuan kenapa dilakukannya puasa. Tujuan puasa adalah untuk melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Tapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi, kita terbiasa berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala amal ibadah.
Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita hidup ini harus selalu mempunyai nilai ibadah. Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat bernilai ibadah. Bulan ramadhan mengajarkan pada kita akan arti hidup hemat dan sederhana. Setiap hari kita membeli kue dan minuman untuk berbuka puasa. Dari sekian banya kue dan minuman yang kita beli. Hanya minuman segelas teh buatan kita sendiri yang diminum. Yang lain banyak tertinggal dan sebagian terbuang keesokan harinya. 
Hal ini menyadarkan kita, bahwa apa yang kita beli banyak-banyak sebelum berbuka, hanyalah hawa nafsu saja. Kebutuhan kita hanyalah segelas teh manis! Mengapa kita harus membeli banyak-banyak minuman dan kue-kue yang akhirnya tidak kita makan? Hal ini menyadarkan kita betapa kita harus hemat, membeli sekedar yang dibutuhkan. Kelebihan uang yang kita punyai mungkin dapat kita sedekahkan bagi yang lebih membutuhkan melalui cara apapun.
Kita mesti berupaya agar ritualitas dan rutinitas puasa ramadhan memberi dampak kedisiplinan dalam kehidupan sehari –  hari. Di samping beragam aktivitas yang dilakukan secara berkala, seperti membaca Al- Qur’an, bersedekah dan lainnya, rutinitas yang dijalankan dalam bulan ramadhan memang kita akui sangatlah teratur dan tertata sangat tertib, sehingga membuat kita menyadari bahwa ramadhan adalah kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup, yang nantinya akan tercermin dalam kehidupan kita sehari – hari walaupun ramadhan telah berlalu.
 Setiap iktibar dari bulan suci ramadhan kita harapkan mampu mendedikasikan kita semua agar lebih produktif juga di luar bulan ramadhan, karena itulah esensi dari puasa yang mabrur.

 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Memang segala sesuatu harus diketahuai ilmunya dan dasar-dasar yang mendasari sesuatu hal,sehingga seseorang akan mau dan mampu mempelajari dan mengamalkan sesuatu hal lebih banyak dan dengan baik seperti pula puasa, maka seseorang itu akan melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh kalau tahu manfaatnya dan hukum-hukum yang mendasari sebuah amalan. Jadi jadikanlah bulan suci Ramadhan ini sebagai bulan untuk berprestasi seperti halnya Rasulullah saw.
Para sahabat dan orang-orang saleh sebagai bulan untuk berprestasi kepada Allah.
Jangan sia-siakan kesempatan terbaik ini karena kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah Swt. Bulan Ramadhan merupakan hadiah besar yang langsungsung dberikan Allah . Bagi umat islam sebagai sarana penyucian diri, Insya Allah,orang termalangpun bias sukses apabila melaksanakan puasa dengan baik dan benar. Oleh karena itu segeralah mengejar ilmunya dan amalkan dengan sungguh-sungguh.


B.Saran
Adapun saran yang bisa penulis berikan :
1.      Kepada semua pembaca bila mendapat kekeliruan dalam makalah ini harap bisa meluruskannya.
2.      Untuk supaya bisa membaca kembali literatur-literatur yang berkenaan dengan pembahasan ini sehingga diharapkan akan bisa lebih menyempurnakan kembali pembahasan materi dalam makalah ini.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA

o       Gymnastiar,Abdullah KH (2002). Aa Gym dan Fenomena Daarut Tauuhiid. Bandung: Mizan
o       assunnah.tuntunan.ibadah.ramadhan/15657500 diakses tanggal 15 Agustus 2010
o       muhammad-zainuddin/hukum-hukum-yang-berkaitan-dengan-puasa-ramadhan/419704869350 diakses tanggal 15 Agustus 2010
o       Drs. H. Amir Abyan, MA dkk. Fiqih. Semarang. 1997

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

    • Popular
    • Categories
    • Archives